Rabu, 30 Januari 2008

Ketika Aku Jatuh Sakit

Renovasi rumah yang tak kunjung selesai ternyata memberikan dampak buruk bagiku. Suasana yang sumpek karena barang2 yang masih berantakan, juga terganggunya aktivitasku sehari-hari membuat aku sering merasa jenuh di rumah. Apalagi aku tidak bisa leluasa untuk memasak makanan kesukaanku karena dapurku masih “mengungsi sementara” di ruang tamu yang notabene dijadikan lalu-lalang tukang mengangkut bahan bangunan. Akupun menjadi bosan dengan menu makanan “cepat saji” yang itu2 saja dan akhirnya seringkali membeli makan di luar rumah. Ternyata akibatnya cukup fatal. Sekitar dua minggu yang lalu aku jatuh sakit. Penyebabnya tidak lain karena pada malam sebelumnya aku membeli mie pangsit karena bosan dengan makanan di rumah. Waktu itu aku memang tidak peduli apakah penjualnya higienis atau tidak karena dalam pikiranku aku bisa secepatnya menikmati makanan kesukaanku di suasana hujan gerimis yang dingin.



Penyakitku ternyata bukan cuma sakit maag biasa seperti yang sering aku alami, tetapi komplikasi antara sakit maag, infeksi pencernaan, dan pre-menstruation syndrome.Aku cukup dibuat kerepotan selama aku sakit. Hampir tiga malam aku tidak bisa tidur nyenyak karena menahan sakit. Aku harus dua kali pergi ke dokter umum karena gak juga sembuh sampai2 aku hampir bosan untuk minum obat. Aku juga harus rela “berpuasa” tidak makan nasi, makanan yang pedas, asem, dan sayuran berserat tinggi selama aku sakit. Bahkan makan roti saja perutku juga sakit. Suamiku juga cukup dibuat repot dengan sakitku itu. Hampir semua pekerjaan yang tidak bisa aku lakukan harus ia lakukan sendiri karena memang bergerak sedikit saja aku sudah kesakitan. Yang mengherankan, setelah satu minggu lebih hidup seperti itu dan minum berbagai macam obat aku belum juga sembuh.


Akhirnya seorang teman yang berprofesi sebagai dokter menyarankan aku untuk berobat saja ke dokter internist di rumah sakit setelah mengetahui bahwa gejala2 sakit yang aku alami mirip dengan penyakit usus buntu. Aku menjadi semakin yakin setelah membaca sendiri artikel tentang penyakit usus buntu di internet. Dalam hatiku aku sangat merasa takut, bukan takut dioperasi tetapi takut jika dirawat di RS tanpa ada yang menemani karena suamiku yang seringkali harus bertugas keluar kota. Sementara pada saat kondisi sakit seperti itu aku juga sangat merindukan kehadiran orangtuaku.


Akhirnya tanpa banyak menunggu lagi, keesokan harinya suamiku mengantarkan aku ke RSUD Sidoarjo.Tapi disana aku mendapati suasana yang tidak menyenangkan. Setiap pasien yang berobat harus direpotkan dengan mengantri dulu di loket dengan membawa berbagai macam berkas. Setelah semuanya beres, aku harus mengantri lagi di poli penyakit dalam untuk melengkapi dokumen pemeriksaan, baru kemudian mengantri lagi untuk dipanggil bertemu dengan dokter. Ketika sudah berhadapan dengan dokter aku hanya diminta duduk, ditanyai sebentar lalu keluar dengan membawa resep. Karena tidak puas dengan pemeriksaan dan pelayanan di sana akhirnya suamiku membawaku untuk berobat lagi ke RS Delta Surya pada hari itu juga. Sangat berbeda dengan sebelumnya, tidak ada prosedur yang merepotkan untuk berobat. Hanya mendaftar di bagian pelayanan, membayar biaya lalu langsung bertemu dengan dokter. Di sana aku juga mendapatkan pelayanan yang sangat baik. Dokter mau mendengar semua keluhanku, memeriksa sesuai dengan gejala yang aku alami, juga memberitahukan kemungkinan penyakit apa yang aku derita.Untuk mengetahui benar tidaknya aku terkena penyakit usus buntu, aku diminta untuk melakukan tes darah, urin, dan USG. Namun aku memutuskan untuk tes darah dan urin dulu sambil mencoba obat yang diberikan oleh dokter. Entah karena telah mendapatkan pengobatan yang tepat atau hal lain sehingga membuat semangatku untuk sembuh semakin besar dan akhirnya penyakitku mulai berangsur sembuh pada keesokan harinya. So, otomatis kemungkinan aku terkena penyakit usus buntu tidak terbukti.


Ada banyak pelajaran yang aku ambil ketika aku sakit. Sejak saat itu aku tidak lagi jajan di luar sembarangan meskipun itu adalah makanan yang aku sukai, harus memperhatikan kebersihan dan riwayat penyakitku karena kelalaian kecil yang aku perbuat akan berdampak besar pada kesehatanku yang pada akhirnya menyusahkan diriku sendiri dan juga orang lain.Aku juga mendapat satu hal yang baru, bahwa ternyata membaca artikel dan mempelajari tentang berbagai penyakit itu sangat menyenangkan dan sangat membantu.Aku bisa lebih cepat bertindak jika aku mengalami gejala2 penyakit tertentu. Kata orang, kesabaran, kesetiaan dan cinta kasih suami-istri dalam berumah tangga akan teruji ketika salah satu diantaranya jatuh sakit. Jadi tidak hanya ingin bersama di kala sehat saja tetapi juga di kala sakit. Dan ternyata suamiku membuktikan hal itu dengan sabar menemani aku, tak bosan mendengar keluhan sakitku, membantu pekerjaan rumahku, mengantarkan aku berobat ke dokter, dan banyak lagi hingga rela untuk menunda tugas keluar kotanya. Aku merasa tidak sendiri dan hal itu memberiku kekuatan untuk sembuh.

Artikel Terkait:

0 komentar:

:)) :)] ;)) ;;) :D ;) :p :(( :) :( :X =(( :-o :-/ :-* :| 8-} ~x( :-t b-( :-L x( =)) :10 :42 :43 :44

Poskan Komentar