Menjelang pergantian tahun 2007 ke tahun 2008, terjadi peristiwa luar biasa yang belum pernah terjadi di kampung halamanku, yakni kota Bojonegoro terkena banjir yang sangat hebat hingga mencapai 2 meter. Banjir ini terjadi akibat luapan air sungai Bengawan Solo yang tak dapat terbendung lagi sehingga tanggul-tanggul menjadi jebol dan mengakibatkan banjir besar di sejumlah kecamatan termasuk kecamatan kota Bojonegoro. Memang dari dulu kotaku dikenal sebagai daerah langganan banjir setiap datangnya musim penghujan, tetapi biasanya banjir hanya terjadi di daerah2 sepanjang sungai saja tidak sampai meluas ke wilayah kota. Kalaupun ada wilayah kota yang terkena banjir, hal itu lebih diakibatkan karena saluran pembuangan air yang tidak mampu menampung curahan air hujan.
Akhirnya berdasarkan kesepakatan bersama, kami berangkat ke Bojonegoro pada keesokan harinya dengan mobil kakakku untuk mengevakuasi orang tua ke tempat yang lebih aman. Tapi ternyata perjalanan kami mengalami banyak hambatan.Kami mengalami pecah ban sepeda motorsewaktu menuju ke Gresik, bahkan di tengah jalan kami masih terkena razia kendaraan bermotor. Mobil kakakku juga mengalami kerusakan lampu sehingga kami harus pulang sebelum hari menjelang malam. Di samping itu waktu kami juga sangat terbatas mengingat pada malam hari listrik di Bojonegoro sudah tidak menyala lagi.Ketika sampai dikota, kami kesulitan mencari tempat parkir terdekat karena banyak jalan akses menuju ke rumah yang tertutup air dengan ketinggian yang cukup tinggi. Satu2nya jalan adalah dengan berjalan kaki menyusuri rel kereta api menuju ke rumah orangtuaku. Namun lama kelamaan medannya semakin berat karena ketinggian air beranjak naik hingga mencapai pinggang orang dewasa dan arusnyapun semakin kuat. Dengan susah payah kami akhirnya bisa mencapai lokasi orangtuaku menyelamatkan diri yakni di lantai 2 rumah tetangga dan mengajak mereka mengungsi ke rumah kakakku di Gresik.
Keesokan harinya aku dan suamiku memutuskan untuk kembali ke Bojonegoro dengan menyewa kendaraan sendiri. Untungnya pada hari itu kami sudah mendapat kabar bahwa.kedua mertuaku dan keluarganya telah berhasil dievakuasi oleh tim SAR ke sebuah masjid yang aman dari genangan air di pusa kota dengan sarana dan prasarana yang sangat terjamin untuk pengungsi. Sementara itu, juga ada jalan yang cukup aman dilalui kendaraan menuju ke lokasi pengungsian mereka.Meskipun demikian halangan tetap saja ada, yakni di jalan utama menuju ke Bojonegoro dikota Babat telah ditutup mengingat tanggul-tanggul banjir yang ada di sekelilingnya mulai bocor sehingga menggenangi jalan dan membahayakan kendaraan yang lewat. Namun dengan bantuan polisi, akhirnya kami berhasil menuju ke Bojonegoro melalui jalan alternatif.
Ada cerita menggelikan sewaktu kami melewati jalan alternatif tersebut. Di sepanjang jalan memang banyak sekali warga yang mendirikan semacam posko dan meminta sumbangan kepada setiap kendaraan yang lewat. Tetapi karena jumlahnya sangat banyak dan terkesan “sedikit memaksa” sehingga membuat lalu lintas kendaraan sedikit terganggu, apalagi jalan tersebut sangat ramai dengan kendaraan dari dua arah dari dan menuju ke Bojonegoro. Kamipun mencari akal supaya perjalanan kami tidak terganggu lagi. Caranya yaknidengan mengedip2kan lampu mobil selama dalam perjalanan dan selalu mengatakan sebagai mobil Basarnas setiap kali warga menghentikan mobil kami. Ternyata cara itu terbukti sangat jitu dan akhirnya perjalanan kami sangat lancar menuju ke lokasi pengungsian mertua dan keluarganya.
Meskipun capek dan kurang istirahat, sungguh perjalanan itu sangat berkesan bagiku. Semangat untuk menolong dan menyelamatkan keluarga yang tertimpa musibah serasa mengalahkan semua halangan dan bahkan membuatku lupa bahwa aku sedang dalam kondisi sakit pada waktu itu. Aku juga menyadari bahwa dengan membantu orang lain yang dalam kesulitan ternyata menumbuhkan kebahagiaan tersendiri yang membuat hidupku terasa berarti bagi orang lain.




0 komentar:
Poskan Komentar